April 1, 2020
  • 9:59 am Persamaan Islam, Yahudi, dan Kristen
  • 9:58 am Faith Training | Jesus Is Healer | Episode 40 | Christian Bible Study Devotional Video
  • 9:58 am Being a people of faith
  • 8:59 am Faith & Co. | Could You Tell Your Children? (Don Flow)
  • 8:58 am Hope Faith Ministries helping homeless during pandemic
🔴Gus Baha: Agama ini proses I Kisah Preman Ingin Berdamai dengan Allah SWT (Sub Indonesia)


saya mau sedikit cerita masbuq bahwa agama ini proses saya ulang lagi: agama ini proses dulu para sahabat (Nabi) itu seperti anak kecil Kudus, anak kecil Indonesia jadi dulu para sahabat itu, kalau Nabi sudah rakaat ketiga, atau rakaat kedua itu takbir terus sholatnya ngebut ngebut, seperti anak-anak kecil, kita zaman kecil kan begitu: kalau imam sudah rakaat tiga baru takbir, ngebut nanti ngebut sampai (shalat) selesai jadi imam rakaat ketiga, kita tau-tau rakaat ketiga karena menyalip nanti imam salam juga ikut salam itu kecerdasan, itu pintar dulu jaman sahabat juga begitu, kalau Nabi rakaat ketiga, sahabat datang, takbir, ngebut sampai rakaatnya sama dengan Nabi, Nabi salam (sahabat) terus ikut salam kalau ditanya Nabi, “sudah berapa rekaat?,” (dijawab) “empat rakaat” “kamu tertinggal kok (sudah) empat rakaat?” / “ya ngebut, Nabi” itu dulu begitu sampai ada Mu’adz bin Jabal, makanya disebut, di antara spesialis fiqih itu Muadz bin Jabal ketika beliau telat telat dengan Nabi, beliau mengikuti Nabi, kemudian Nabi setelah salam beliau menambahkan rakaat yang kurang semenjak itu jadi syariat: kalau untuk masbuq mengikuti imam setelah imam salam, (makmum) menambahkan rakaat yang ditinggal terus dibakukan sampai sekarang dulu nggak, nggak seperti itu dulu shalat ya kenalan: ” kamu rumahnya mana?” di tengah-tengah shalat berdampingan dengan orang kok nggak kenal, “kamu dari mana, kok nggak pernah lihat?” / “oh saya orang sini” ya begitu, dulu sahabat yang sudah terpelajar tak tahu kalau begitu membatalkan shalat sampai setelah shalat Rasulullah saw bersabda: “inna hadzihish shalat munajat (shalat itu munajat, kalau ngobrol dengan Allah saja, nggak usah dengan manusia) akhirnya semenjak itu, shalat ngobrol dengan manusia hukumnya batal sebelum itu ya ndak makanya, agama ini proses sehingga, fiqhud dakwah itu harus dihidupkan; sekarang nggak, orang langsung pakai fiqhul ahkam akhirnya umat itu lari harusnya yang dimulai fiqhud dakwah jadi dulu Nabi berkali-kali kecewa dengan umatnya tapi Nabi menahan diri, karena prosesnya fiqhud dakwah pernah ada orang itu – mohon maaf – masih punya pekerjaan, yaitu maling sowan ke Nabi, kemudian terkenal Nabi cuma meminta: “ya sudah, kamu shalat” ada sahabat, yang – mohon maaf – usul kepada Nabi: “Ya Rasulallah, dia punya penyakit sering maling, kenapa tidak engkau larang supaya tidak maling?” Nabi jawabnya begini: “sayanha huma yaqul” “kalau nanti shalatnya sudah benar, diterima Tuhan, nanti berhenti sendiri) itu termasuk yang diperkuat oleh cerita Habib Zein bin Smith dalam kitab al-Manhajus Sawi ada orang, preman, agak suka malak orang, gitu tapi kalau shalat sungguh-sungguh tapi ya (suka) malak sebenarnya contoh ya banyak, kamu nggak usah tanya fasik itu macam-macam: preman ada, ngegank, liat perempuan, liat dangdutan terus, macam-macam tapi kalau shalat khusyuk ada seorang wali yang jengkel; jengkelnya itu: “gunanya apa kamu shalat, karena masih fasik?” jawab orang tadi, saya masih hafal kalimatnya, yang diceritakan Habib Zein: “ada-u lishulhi maudlian” “saya tetap ingin ada alasan saya berdamai dengan Allah” “jadi aku kalau pas maksiat, itu kan hubungan saya dengan Allah kurang baik” “maka saya tetap akan menjaga satu-dua perilaku saya, yang saya menjaga perdamaian dengan Allah” istilahnya dalam bahasa Arab: “ada-u lishulhi maudli-an” “saya tetap punya sisi mushalahah, berdamai dengan Allah” sehingga, suatu saat, mungkin Allah pas ridla, shalatnya diterima, kemudian dia jadi wali makanya kita ini nggak pernah tahu: Allah ridla pas kita apa, juga nggak pernah tahu: Allah benci pas kita apa sehingga, tak bisa kamu bilang: “apa gunanya haji kalau kelakuanmu masih begitu?” “apa gunanya mengaji Minhajut Thalibin,” ya tak usah gitu siapa tahu pas kamu ngaji, pas tak paham, terus ridla dengan qadla – qadar wah diridlai Tuhan, ini orang kondang sekali: tak paham kok ridla dengan qadla – qadar yang paham ujub: “hmm orang bodoh semua, yang pintar aku doang,” waduh! sengsara jadi, kita ndak pernah tahu: Allah itu meletakkan ridlanya di mana, meletakkan murkanya di mana ada orang Hawariyyin, dalam cerita (kitab) Ihya (Ulumiddin) orang-orang Hawariyin itu orang-orang hebat, wali-wali Allah, pengikut Nabi Isa ada preman lewat si preman ini spontan melihat orang-orang shalih itu tertarik: langsung ikut gabung saya ulang lagi: langsung ikut gabung si wali, di antara Hawariyin ini ada yang risih: “aku terkenal wali kok sebelahan dengan preman,” risih maka si wali tadi mempercepat jalannya karena risih risih bersebelahan dengan preman yang preman dari awal memperlambat jalannya, karena dia bilang: “misliy…” “(orang) seperti saya nggak layak sebelahan dengan orang shalih” intinya: si preman menjaga kesopanan si wali: memelihara keangkuhan jadi si preman dari awal dia sudah memperlambat jalannya karena ndak ingin sejajar si walinya tambah banter, tambah banter, karena ingin tak sejajar Allah saat itu juga, memfirmankan ke Nabi Isa, karena masih zaman nubuwwah (kenabian): “‘Isa, liyasta’nifa al-amala; dua orang ini memulai amal dari nol” “wali ini kuhapus semua amalnya, preman ini kuhapus semua dosanya,” semuanya nol-nol yang satu dapat berkah adab (tatakrama) yang satu dapat bencana ujub maka jadi kiai seperti saya ini sulit, kalau ketemu orang fasik itu sulit mau berteman nanti diamuk kalian, karena agak garis keras seperti ini “Gus kok berteman orang fasik” mau tidak berteman, nanti ujub makanya saya tak jelas karena perkara itu; saya beritahu, kenapa Gus Baha sikapnya tak jelas ya bawaan orang alim itu tak jelas, anak dibilangin kok sulit bawaah orang alim itu tak jelas tapi tidak jelasnya tadi: mau berteman dengan orang fasik… berteman orang fasik kok jadi syariat, ndak mungkin sok suci juga tidak mungkin makanya difirmankan Allah SWT: لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَٰلِمُونَ (QS. Ali Imran: 128) jadi orang fasik itu berpotensi dimaafkan Allah, tapi juga berpotensi disiksa Tuhan kalau melihat potensi dimaafkan kita boleh berteman, kalau melihat potensi disiksa kita tak boleh berteman (tapi) masalahnya kita tidak tahu (itu) masalahnya kita tidak tahu lihat di cerita-cerita wali orang sowan Sunan Bonang itu bawa gula, salam tempel, tak mesti jadi wali Kalijaga yang kenalnya lewat membegal (malah) jadi wali Kalijaga kenal Sunan Bonang pertama itu karena apa? mbegal kenalannya saja lewat mbegal tapi malah jadi wali Suraqah Suraqah kenal Nabi itu perkara mau membacok karena ada sayembara: “yang bisa menangkap Muhammad,” tentu tak pakai Nabi, karena yang bilang orang kafir, “yang bisa menangkap Muhammad” makanya jadi kiai itu bingung kalau menceritakan sejarah kok menyebut Rasulullah kan nggak mungkin: orang kafir kok ngasih sayembara: “yang menangkap Rasulullah saw, dikasih hadiah” masa orang kafir kok sayembaranya berbunyi: “yang menangkap Rasulullah saw kita beri hadiah” “yang membacok Muhammad Rasulullah saw kita beri hadiah,” kan nggak mungkin orang kafir bilang begitu yang bingung kiai yang menceritakan “yang menagkap Muhammad, tak kasih uang” bilang “Muhammad” (kiai) kan sudah terlanjur tak biasa kalau kamu jadi kiai, pilih mana? menceritakan omongan orang kafir pilih mana? makanya saya bingung, kadang kiai tak punya pilihan bahasa makanya, Imam Suyuti itu sopan-sopannya orang, tapi kalau bilang: “Iqra’ ya Muhammad” karena itu satu-satunya kesempatan njangkar Kanjeng Nabi, kan yang perintah Allah: “Iqra'” lha mesti: “Iqra’ ya Muhammad” karena Allah yang perintah kepada Nabi tapi kalau kita ke Nabi kan nggak mungkin bilang: “ya Muhammad” gampangnya ada sayembara: “siapa yang dapat menangkap Muhammad kita beri unta 100” Suraqah tertarik ikut tapi berkahnya itu, berkah kesalahan itu malah melihat mukjizat Nabi Muhammad saw ketika mau membacok, amblas, sampai tiga kali ini awalnya salah, niatnya juga salah, tapi Allah menghendaki dapat hidayah berkahnya salah itu melihat mukjizat Rasulullah saw ya sudah, tak tahu; dunia itu (kita) tak tahu ada orang shalih, Tsa’labah, suka (shalat) berjamaah, sampai dijuluki hamamatul masjid tapi ceritanya seperti itu akhirnya makanya berdoa: “ya muqallibal qulub tsabbil qalbi ‘ala dinik” kita ndak pernah tahu ya sudah seperti itu paham, ya? tapi kita tentu mengikuti syariat, pokoknya: “kullun muyassarun lima khuliqa” (Segala sesuatu akan dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya)

Jean Kelley

RELATED ARTICLES

10 COMMENTS

  1. Catur Ariansyah Posted on March 18, 2020 at 10:16 pm

    Love, love, love you my kyai…😍

    Reply
  2. Cak Den Posted on March 18, 2020 at 10:25 pm

    Salam santun gus.. Derek ngaoss

    Reply
  3. deden kurniawan Posted on March 18, 2020 at 10:35 pm

    semangat terus min upload dakwah2 gus baha dll nya

    Reply
  4. ikbal sadilah Posted on March 18, 2020 at 11:00 pm

    Tapi kalo sholat jumat ketinggalan satu rakaat di gebut, jadi nnti salamnya bareng imam itu gimana min,? adminya pasti santri, klo gk temnya santri cba tanggapanya gimana mas,,?

    Reply
  5. Anas Syahrifudin Posted on March 18, 2020 at 11:26 pm

    Mantap kang, uplod terus dawuhnys gus baha ❤️❤️❤️

    Reply
  6. Lisha Haryputrie Posted on March 19, 2020 at 12:07 am

    Kendal hadir

    Reply
  7. firman Syah Posted on March 19, 2020 at 3:57 am

    Gus baha ❤️❤️❤️❤️

    Reply
  8. Bayu Suendika Posted on March 19, 2020 at 7:47 am

    Pak kiayi saya mau bertanya apakah kita sebagai seorang lelaki apabila kita mendengar azan dimasjid kita diwajibkan untuk sholat di masjid dan berjemaah.sedangkan pada zaman nabi orang azan tidak menggunakan pengeras suara paling suaranya terdengar tidak begitu jauh hanya bebera kilo meter dan mungkin orang bisa pergi ke masjid karena dekat.tetapi di zaman kita sekarang azan menggunakan pengeras suara hingga terdengar begitu jauh sampai terdengar sama orang yang bekerja disawah yang jauh dari kampung apakah kita diwajibkan juga untuk shalat di masjid atau kita shalat sendiri di tempat kerja kita dan itu apakah sah.mohon pencerahan nya pak kiyai

    Reply
  9. Ngo pi Posted on March 19, 2020 at 12:01 pm

    Kasih sub Indonesia min, biar bisa disimak oleh semua orng, bukan khusus jawa

    Reply
  10. M. Syahrul Adzim Posted on March 19, 2020 at 4:39 pm

    Love gus baha

    Reply
LEAVE A COMMENT